Langsung ke konten utama

Intro

Kenalan dulu! Namaku Donny Kurniawan, biasa dipanggil Donny.

Kerja? Sekarang aku kerja jadi tukang koding. Itulo, orang yang suka mantengin laptop seharian sambil pecut-pecut AI (canda, gak gitu ya teman-teman). Aku kerja jadi budak perusahaan. Bukan korporat, tapi mereka gak kalah keren kok. Sekarang lagi survive di Malang— tanah perantauan yang penuh kenangan absurd. Yah, di sinilah titik kehidupanku benar-benar di-start, tapi langsung loncat ke mode hard (adulthood).

Alumni UIN Malang *senandung MSAA berkumandang*

Gambar 1.1 Sebuah artefak tahun 2017 (colorized)

Awal kisah dimulai di kampus tercinta UIN Malang. Masuk jurusan Teknik Informatika angkatan 2017 setelah gap year 1 tahun menjadi pengangguran di rumah dan berbakti kepada orang tua ðŸ¥°. Masa-masa kuliah normal sih harusnya, tapi tiba-tiba Bumi kedatangan tamu dari negeri tirai bambu yang menyebabkan libur 2 minggu menjadi 2 tahun (lucu banget wak). 

Alhasil, mulai dari magang sampai skripsian cuma lewat layar laptop doang. Entah harus bersyukur atau gimana, tapi intensitas ketegangan menghadapi dosen killer yang digadang-gadang bakal super duper serem sama kating ketika skripsian, akhirnya gak begitu terasa soalnya cuma lewat Zoom. Berasa lulus jalur giveaway covid. Tapi wisuda untungnya nggak lewat online kayak temen-temenku di periode sebelumnya. Jadi masih bisa ngerasain euforia wisuda normal seperti manusia pada umumnya, walau protokol kesehatan waktu itu masih berjalan ketat, yang bahkan ke Malang pun hanya sendiri tanpa keluarga gara-gara itu. Tapi yasudahlah, main mission udah dapat: lulus walau gak tepat-tepat waktu amat.

Back-end Developer(?)

Mulai masuk dunia kerja tahun 2022. Awalnya, identitas masih jelas, jadi back-end developer. Karena emang punya cacat logika di desain web sama CSS dari dulu, jadi menjadi back-end adalah jalan ninjaku. Setelah nyaman dengan main logika database, syntax, dan API yang berantakan itu yang sudah berjalan sekitar dua tahunan, saya pindah ke perusahaan baru. Di sini awalnya juga masih menjadi BE, tapi perlahan mulai tuh task-task FE bermunculan— eh nggak deng, task-nya itu sepaket BE+FE. Jadi ya nggak bisa pilih-pilih lagi kan, task yang murni BE doang juga nggak bakal selalu ada.

Mulai dari keterpaksaan itu, akhirnya belajar FE dan perlahan mulai faham seluk-beluk tampilan web. Puncaknya, ada project yang harus migrasi semua dari legacy code pakai Vue.js versi 2 ke React versi terbaru (lupa versi berapa), karena udah terlalu hard to maintain. Mulai dari situlah aku aktif ngedevelop FE pakai React. Emang ya kebanyakan orang tuh bakal belajar dari keterpaksaan dulu. Tapi sangat bersyukur, tanpa adanya tuntutan itu mungkin sampai sekarang aku masih terus ada di zona nyaman (BE).

Impian yang Terpendam

Sebelum terjun ke dunia programmer, pernah punya cita-cita jadi profesor sejak kecil. Entah kenapa dulu memandang orang yang pakai lab coat itu keren banget, dan yang kutahu, orang yang pakai pakaian seperti itu adalah profesor. Pas udah gede baru faham kalau profesor itu gelar tertinggi yang pendidikannya sampai di jenjang S3. Dan anehnya, itu masih sejalan sama tujuan hidupku. Yap, aku pengen mengenyam pendidikan tinggi (walau gak sampai S3) dan lanjut menjadi dosen. Aku punya jiwa mengajar yang mungkin menurun dari ortu karena mereka semua adalah guru.

Selama kuliah buat memenuhi keinginan ngajar, aku mendaftar jadi aslab (asisten laboratorium). Tugasnya bantuin/gantiin dosen buat ngajar di kelas ketika praktikum. Terus lanjut freelance jadi guru les privat buat ngajar anak SD sama SMP (SMA skip dulu, hayati gak kuat). Dan ketika hidup berjalan dengan lancar tanpa hambatan, gongnya pun muncul. Tiba-tiba libur pemanggil jadi pengangguran 2 tahun itu muncul.

Semangat buat lanjut ke S2 langsung drop karena lockdown, gara-gara keseharian rebahan terus sambil ngerjain tugas kuliah dan skripsi. Dan jadilah sekarang banting stir langsung ambil kerja aja. Ya untungnya masih sejalan sama pendidikan terakhir, jadi ilmu dari kampus benar-benar terpakai walau banyak banget yang harus dipelajari ketika udah di dunia kerja. Sebenarnya sampai sekarang pun masih ingin ngajar, tapi mungkin bisa jadi side-hustle buat jadi dosen lepas sambil masih kerja full-time di programmer (tapi mungkin gak sih? idk)

Hobi yang (tidak) Terpendam

Tebak hobi yang paling melekat pada mahasiswa informatika!— Yak, betul! Wibu.

Hobi buat mantengin anime dan segala subkulturnya. Juga punya hobi menggambar, impact dari hobi anime yang tidak jauh dari seni menggambar. Dulu pun pas waktu covid, biar nggak nganggur-nganggur banget lockdown di rumah, aku akhirnya juga mulai freelance jadi ilustrator anime art sampai kira-kira 1 tahunan aku kerja di Malang. Abis itu, udahan freelance-nya karena udah ngerasa capek. Hobi lebih aku fokusin buat beneran hobi yang murni jadi pelarian dari lelahnya kerja, bukan dijadiin double job (malah makin stres kan). 

Tapi sekarang intensitas buat ngewibu berkurang. Mungkin cuma mengikuti satu atau dua judul di setiap musim. Karena aku yakin, pasti pahlawan Himmel juga akan melakukannya.

Cita-cita dan Impian

Jadi orang sukses lah...

lah... ...yakin bisa???

Dari dulu— gak dulu banget sih. Kayak pengen gitu kerja di perusahaan multinasional, yang daily conversation itu pakai bahasa Inggris, tapi masih ada ruang untuk berkomunikasi pakai bahasa Indonesia dengan kolega kerja dari Indonesia juga, lalu tipe kerja hybrid. Tapi hybrid-nya bukan seminggu sekali, tapi beberapa minggu atau sebulan sekali. Dan ketika "ngantor", berangkatnya langsung ke kantor pusat di luar negeri, di mana semua biaya perjalanan dibiayai oleh kantor. Beberapa kali dinas luar negeri juga untuk mendatangi sebuah event besar, berkesempatan bertemu orang-orang dari perusahaan lain dari seluruh dunia, dan sebagainya.

Tinggi sekali, kan? Seperti harapan orang tua. Ya iyalah, orang tua pengen anaknya sukses. Makanya yang penting berharap dulu setinggi harapan mereka, hehe.

Jadi, jawaban dari pertanyaan di atas, yakin bisa? Jawabannya adalah harus bisa! Aminn... Someday yah uwu

Alasan Bikin Blog Ini

Blog/Web pribadi itu menurutku seperti buku harian/logbook. Jadi aku pengen bikin sebuah web ter-publish yang bisa jadi wadah untuk menuangkan isi catatan entah apa pun itu kalau lagi ingin sharing sesuatu. "Bang, kenapa gak ngoding sama deploy sendiri aja?" Jawabannya satu: males. Malesnya bukan tanpa alasan, jadi gini.

Dulu aku udah pernah nyoba. Walau masih skill amatiran, tapi gara-gara itu jadi paham gimana struggle-nya ngurus semuanya secara mandiri. Oke lah kalau dipakai buat sekalian belajar juga, tapi.. 

  1. Development lama. Bikin CMS yang serba integrated dan matang itu lama dan susah.
  2. Mahal. Harus bayar Hosting/VPS, dan domain.
  3. Ribet. Banyak setting sana-sini. Belum lagi harus integrasi sama SEO & web harus SEO-friendly kalau sambil ngejar indeks Google. Susah-susah ngetik panjang bikin artikel tapi gak terindeks Google itu rasanya kayak udah nerbitin buku, tapi gak ada yang laku kejual.
  4. Istiqamah. Setelah berinvestasi sebanyak itu, yakin bakal awet dan terus dilanjutin web-nya?
Aku pilih jalur realistis aja. Gak yakin kalau blog ini juga bakal aku urus sampai— kapan ya? Tahun depan dulu deh, jangan jauh-jauh. Aku juga belum berani berinvestasi banyak di sini, bahkan sesimple beli domain murah-murahan kayak web.id yang pertahunnya cuma 50rb aja masih pikir-pikir dulu. Lalu, pengen yang instan juga. Karena tujuanku simple, genuinely pengen punya "rumah" sendiri buat sharing, yang bisa aku manage semua isi konten dan tampilannya (walau terbatas). Sekarang fokus istiqamah dulu buat isi blog ini hingga bisa disebut layak buat dipasang domain sendiri.

Yang pengen bikin web pribadi tapi pakai jalur ngoding sendiri, aku sangat mengencourage kalian! Bisa jadi portofolio juga, sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui. Asal jangan lupa diurus terus ya! Jangan berhenti di tengah jalan proyeknya, hehe.

Pesan Buat Junior

Yang mau terjun di dunia perkodingan dan seluk beluknya, pecut AI boleh, tapi tetep fahami fundamental. Kalau kita jadi mandor, berarti pengetahuan harus lebih baik daripada pekerjanya. Kalau AI bikin solusi A, tapi kamu belum faham, pecut lagi AI-mu, tapi kali ini buat ngasih faham ke kamu sampai bener-bener faham apa yang ia tulis dan kalian bisa sejalan secara logika, bukan menerima mentah-mentah hasil generate AI-nya. Oke? Oke! Sip!

Sekian dulu perkenalannya, jangan lupa klik lonceng dan subscribe-nya (mana ada). Thanks gozimashu!

Komentar