Saya pernah mendengar cerita dari seseorang yang saya kenal kalau perusahaan tempatnya bekerja menerapkan sistem penalti, alih-alih menggunakan KPI/poin. Saya pun mengerutkan dahi karena baru tahu kalau ada perusahaan IT yang menerapkan sistem seperti itu.
Jadi ia bercerita bahwa setiap beberapa waktu sekali, performanya akan ditampilkan dalam rapat umum yang dihadiri oleh seluruh karyawan kalau si A telah melakukan kesalahan 1, 2, 3. Dst...
Kesalahannya diketahui oleh semua orang dan menjadi konsumsi umum. Dan jujur saja, reaksi saya otomatis kaget terhadap budaya penilaian seperti itu. Saya langsung bertanya-tanya. Bukankah hal itu akan berdampak negatif pada moral pegawai dalam jangka panjang? Hal inilah yang membuat saya ingin menguliknya lebih dalam lagi.
Secara hukum memang tidak ada salahnya sama sekali dan itu sepenuhnya hak perusahaan. Meski keduanya bertujuan untuk menjaga kualitas, dampak psikologis yang dihasilkan sangatlah kontras.
Sistem Berbasis Pencapaian (Point-based/Growth Mindset)
Sistem ini menggunakan positive reinforcement. Karyawan didorong untuk melampaui standar demi mendapatkan apresiasi lebih.
Dampaknya:
- Motivasi Intrinsik: Karyawan merasa memiliki kendali atas kesuksesan mereka sendiri (sense of agency).
- Keberanian Berinovasi: Karena fokusnya adalah "apa yang bisa didapat", karyawan tidak takut mencoba cara baru yang lebih efisien demi meraih poin tambahan.
- Moral Tinggi: Lingkungan terasa lebih suportif. Apresiasi memberikan suntikan dopamin yang membuat karyawan merasa berharga.
Sistem Berbasis Kesalahan (Penalty-based/Fear-based)
Di sini, keberhasilan didefinisikan sebagai "tidak adanya kesalahan". Fokus manajemen adalah mencari celah atau error untuk dikoreksi.
Dampaknya:
- Budaya Ketakutan (Culture of Fear): Karyawan bekerja dalam kondisi stres karena merasa diawasi dan mencari lubang kesalahan.
- Kehilangan Kreativitas: Karyawan hanya akan melakukan tugas "seadanya" (bare minimum) asalkan tidak salah. Tidak ada yang berani mengambil risiko atau memberikan ide baru karena takut gagal.
- Defensif & Saling Menyalahkan: Ketika terjadi masalah, fokus karyawan bukan menyelesaikan masalah, tapi melindungi diri sendiri dan melemparkan kesalahan ke rekan kerja (finger-pointing). Hal ini merusak kerja sama tim.
Sistem ini biasanya diterapkan di industri yang sangat krusial terhadap keamanan (seperti nuklir atau medis), namun jika diterapkan di lingkungan kantor biasa, sistem ini justru menghambat kemajuan karena membuat orang terlalu berhati-hati.
Secara psikologis, manusia lebih tergerak oleh harapan akan apresiasi daripada ketakutan akan hukuman.
Perusahaan yang menghargai poin pencapaian cenderung membangun tim yang proaktif dan loyal. Sebaliknya, perusahaan yang terlalu fokus menghitung kesalahan berisiko menciptakan lingkungan yang kurang baik, di mana karyawan bekerja di bawah stres dan kreativitas terhambat.
LinkedIn Post: https://www.linkedin.com/posts/donnyk22_companyculture-management-professionaldevelopment-activity-7446058035493482497-bW2r

Komentar
Posting Komentar